SMB IV : Selain Minta Maaf Belanda Harus Kembalikan Peninggalan

0
51

 

Palemvang,sinarsumsel-Raja Belanda Willem-Alexander menyampaikan permohonan maaf atas kekerasan yang dilakukan pihak Belanda setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.
Hal ini disampaikan Raja Willem di hadapan Presiden Joko Widodo saat melakukan kunjungan kenegaraan di Istana Kepresidenan, Bogor, Jawa Barat, Selasa (10/3).
“Di tahun-tahun setelah diumumkannya proklamasi, terjadi sebuah perpecahan yang menyakitkan dan mengakibatkan banyak korban jiwa,” kata Raja Willem.
Namun bagi Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) Jayo Wikramo RM Fauwaz Diraja SH Mkn melihat pernyataaan tersebut artinya Pemerintah Belanda sudah melihat sejarah masa lalu yang diluruskan oleh anak cucu saat ini.
“ Oke , kesalahan-kesalahan leluhur bukan dosa anak cucu tetapi kita sebagai anak cucu, akibat leluhurnya salah sebaiknya minta maaf dan gentle dan hati terbuka menyatakan mereka telah bersalah, atas kekhilafan yang dillakukan leluhur-leluhur mereka, kita juga namanya juga sudah sejarah, kita sekarang bagaimana sifatnya membangun kedepan bukan melihat ke belakang, kalau kita melihat kebelakang kita akan selalu dendam Belanda terus tetapi kita lihat , kita lihat nilai positipnya , mereka sudah mengakui itu kesalahan leluhur mereka,” katanya, Rabu (11/3).
Dia berharap kedepan, Pemerintah Belanda ada aksi –aksi lain bukan hanya minta maaf, bisa dengan meluruskan sejarah Indonesia, semua benda sejarah milik Indonesia termasuk Kesultanan Palembang dipulangkan ke Indonesia.
“ Sehingga benda sejarah tersebut bukan berada di museum Belanda lagi tapi berada di museum Indonesia, kalau bisa di Indonesia Belanda bisa membuatkan museum atas kerajaan-kerajaan yang mereka hancurkan,” katanya.
Apalagi dari Palembang menurut SMB IV, Belanda banyak mendapatkan kekayaan Palembang seperti timah, rempah-rempah.
“ Harusnya Belanda itu selain meminta maaf juga mengembalikan semua peninggalan supaya anak cucu di Indonesia mengetahui kejadian yang sebenarnya,” katanya.
Kesultanan ini diproklamirkan oleh Sri Susuhunan Abdurrahman, seorang bangsawan Palembang pada tahun 1659, di era Sultan Mahmud Badaruddin II , Pemerintah Kolonial Belanda yang awalnya berdagangan mulai melakukan penguasaan atas Palembang.
Sejumlah pertempuran terjadi antara Palembang dan Belanda , pada akhirnya
Kesultanan Palembang Darussalam dihapuskan pemerintah kolonial Belanda setelah Sultan Palembang Ahmad Najamuddin Prabu Anom telah menyerahkan kekuasaannya ke Belanda di tahun 1823.
Sejumlah barang peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam sempat di jarah Belanda dan dibawa ke Belanda.
Raja Belanda Willem-Alexander dalam kunjungan tersebut juga menambahkan “Senada dengan pernyataan Pemerintah Belanda sebelumnya, saya ingin menyampaikan penyesalan dan permintaan maaf atas kekerasan yang berlebihan dari pihak Belanda di tahun-tahun tersebut,” katanya.
Selain itu, Willem mengatakan, Pemerintah Belanda telah mengakui kemerdekaan Indonesia secara politik dan moral sejak tahun 2005. Pengakuan itu ditandai dengan kunjungan pertama Pemerintah Belanda dengan diwakili Menteri Luar Negeri Belanda saat itu, Bernard Bot.

“Pemerintah Belanda telah mengakui secara politik maupun moral sejak 15 tahun lalu. Kami mengucapkan selamat pada Indonesia yang merayakan 75 tahun kemerdekaan 17 Agustus nanti,” ujarnya.

Raja Willem menyatakan bahwa sejarah masa lalu memang tak bisa dihapus dan harus diakui oleh generasi selanjutnya. Ia juga menyadari bahwa luka dan kesedihan keluarga dari korban penjajahan masih terasa hingga saat ini. Namun, menurut dia, kunjungan ini menjadi sebuah harapan dan tanda bahwa negara yang pernah berlawanan dapat tumbuh bersama.
“Membentuk hubungan baru berdasarkan rasa saling menghormati, kepercayaan, dan persahabatan,” katanya.
Raja Willem meyakini bahwa ikatan antara Belanda dan Indonesia akan semakin kuat. Ia juga mengklaim, masih banyak pemuda dari Indonesia yang berminat mengenyam pendidikan di negeri kincir angin tersebut. “Banyak orang di Belanda yang merasakan ikatan mendalam dengan Indonesia. Sangat memuaskan juga melihat jumlah pemuda Indonesia yang berminat belajar ke Belanda terus meningkat,” ujar Raja Willem.
Jokowi menyatakan bahwa sejarah masa lalu memang tak dapat dihapus. Namun, menurut dia, hal itu dapat menjadi pelajaran untuk membangun hubungan yang saling menghormati dan menguntungkan.
“Saya ingin menyampaikan bahwa kita tentu tidak dapat menghapus sejarah. Namun, kita dapat belajar dari masa lalu. Kita jadikan pelajaran tersebut untuk meneguhkan komitmen membangun sebuah hubungan yang setara, saling menghormati, dan saling menguntungkan,” katanya.M.DR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here